Filosofi Menggelengkan Kepala Saat Zikir

Salah satu zikir wajib dalam tarekat Qâdiriyyah wan Naqsyabandiyyah adalah apa yang disebut dengan zikir nafi itsbat berupa kalimat “lâ ilâha illa Allâh” setiap usai salat fardu sebanyak 165 kali yang dibaca secara jahr atau keras. Selain itu, sebagai (semacam) suplemen, zikir kalimat tauhid tersebut juga sangat dianjurkan untuk sering diwiridkan secara berjemaah dalam majelis-majelis zikir.

Secara praktis, implementasi dari pengamalan zikir lâ ilâha illa Allâh” tersebut memiliki cara yang khas, yaitu dengan menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, dan semakin lama semakin keras serta cepat sampai badan pezikir (seolah) bergoyang/bergetar mengikuti irama kalimat zikir yang ia ucapkan. Bagi sebagian orang yang belum terlalu mengenal tarekat ini, tak sedikit yang kemudian mengaggap aneh praktik semacam itu. Namun sebenarnya ada nilai filosofis di balik praktik semacam itu.

Sebagaimana dijelaskan oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqi RA dalam rekaman video mubaya’ah (https://www.youtube.com/watch?v=2TqlfjPB4Rw&feature=youtu.be), menggeleng ke kanan saat mengucapkan “lâ ilâha” adalah isyarat bahwa saat itu si pezikir emoh terhadap selain Allah (lâ maqshûda illa Allâh). Meskipun sesuatu yang ada di kanannya itu adalah sesuatu yang baik dan benar –karenanya diisyaratkan dengan menoleh ke kanan sebagai simbol kebaikan dan kebenaran seperti pahala dan surga sekalipun–, namun saat berzikir tersebut ia ogah terhadapnya. Sebab yang menjadi tujuan utamanya adalah Zat Allah semata, yang ditunjukkan dengan mengucap kalimat “illa Allâh” sambil menoleh ke kiri secara tegas dan keras sembari mengarahkannya ke ulu hati. Pengucapan “illa Allâh” secara keras ini sekaligus juga merupakan simbolisasi terhadap kerasnya penolakan si pezikir terhadap selain Allah.

Selain itu, si pezikir juga harus menjaga hitungan zikirnya sebanyak 165 kali, dan bukan mengejarnya. Perbedaan dari keduanya adalah bila zikirnya karena faktor menjaga hitungan, maka pada awalnya ia berzikir secara pelan dan penuh penghayatan, lalu semakin lama –tanpa terasa dan di luar rencana– zikirnya semakin cepat karena dhauqiyyahnya memang menuntunnya begitu. Sedangkan zikir yang dilandasi oleh faktor mengejar hitungan adalah bila sejak awal si pezikir telah merencanakan untuk berzikir secara cepat agar target 165 kali segera terpenuhi.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *